Pages

Selasa, 30 Oktober 2012

Kick Emotionless

Annyeong bloggers...aiih long time no see
Sebenernya udah dari kemarin kemarin pengen nulis lagi,tapi sedang tersesat di antah berantah 'zona nyaman' jadinya godaan untuk ber-Lazy ria menang WO dari kekuatan bangkit.

Sungguh, bangkit dari kegagalan terasa lebih mendingan deh, daripada bangkit dari "That so called Comfort Zone". But well, wheel's rotate, waktu berdetak, dan musimpun berubah *apasi *intinyagadakesimpulan --"

Aniwei, di masa2 vakum dari dunia kerjaan ini, banyak yang ingin saya share. Beberapa teman saya juga merasakan hal yang sama. Bosan bosan.... yah Bosan. Sampe tampangnya kaya gini nih ..

Mungkin, walaupun dulu beberapa kali terjebak dalam comfort zone, tapi begitu kembali ke dunia persilatan *halah *red:kampus saya langsung bisa ter-ignite lagi, nah... ternyata bisa menjawab tantangan diluar belum tentu bisa melakukan hal yang sama di dalam. Kita semangat ke lingkungan luar, tapi di ruangan dalam, kita bisa merasa begitu bosan, karena... tidak segemerlap dan seramai dunia luar. Karena telah begitu banyak hal yang berubah seiring berjalannya waktu, dan kita tidak menyadarinya. Yang jelas tantangannya akan jauh berbeda.

Hanya melangkah melakukan rutinitas, tanpa inovasi,leyeh leyeh gaje



Its comfort zone but i dont know why, it doesn't really comfort me...

Dan berubah, bangkit dari kondisi yang udah kaya air sungai jakarta *ga ngalir,
kayak merangkak dari kolong dipan kasur. Susah..dan perjuangan mentaal banget,hha.

Well...nothing challenge you easier if you want to take higher stage. It should be like this.
Dimana mana adanya ya 'lebih susah jadi trendsetter daripada follower' more difficult to be 'pioner perubahan daripada swimming mengikuti arus dinamika yang ada'

Yah..yah..proses hidup, tapi memang saya sudah punya bakat itu. Bakat bermalas-malasan dan tidur dengan tidak mengenal tempat *jadi inget rajin tidur dikelas,myuhuu~ --"
hanya saja itu ada di tingkat kedua, setingkat dibawah ambisi, jadi saat saya punya mimpi dan ambisi yang ingin saya raih, hal tersebut akan jauh tertekan
Aniwei..belakangan saya banyak menemukan hal seru,setidaknya, minimal, at least...saya gaboleh bertampang "ga oke" dirumah, paling gamau, dan ga suka, dan... *okecukup *lebay..
Hal seru yang bisa buat saya banyak ketawa, dan lumayan jadi bahan bakar untuk beraktifitas dengan senyuman. Ceileeh *digarukgarpu

Thankyou buat beberapa author kece di FF Exo Indonesia..You rocks guys. Nanti saya post disamping deh linknya *kalo sempet,nyahaa .  ga nyangka pada punya bakat nulis yang okecihuy, padahal ada yang lagi sibuk nyari univ lah, ada yg ga gampang juga bidang studi nya,pada kejar dedline demi memberi hiburan ke masyarakat *bow bareng readers lain yang terharubiru. Bikin penasaran,bikin ketawa-ketawa,deg-degan, ampe nangis mewek *gara2 ceritanya ada yang nyrempet #eh..*okeabaikan.   Gomawo chingu udah nge-kick Emotionless saya. Hingga akhirnya bisa balik kaya dolo lagi \/ \/ \/


*Beuh makin absurd *D

Jumat, 21 September 2012

BitterSweet September

"Is it already rain season?I supposed to wait it, but now it doesnt matter, the whole gravitation is pull and push me, so i dont care anymore"




Krisis semangat..
Baru aja baca postingan adek junior berjudul itu, yang dulunya dia saya dorong-dorong buat nulis di blog. Baru sadar, sekarang, sudah lama sekali ga nulis, sudah lama ga fokus urusan sendiri, dan mungkin sudah lama banget lupa caranya jadi diri sendiri.

Someone said that, tidak ada yang lebih membahagiakan saat kita bahagia jadi diri kita sendiri, apa adanya. Ga capek mempertahankan mimik muka tertentu, ga capek pretending dengan sikap tertentu, ga capek jaga image, ga capek memaksakan diri untuk ini dan itu yang bukan kita.
Well...itu mungkin... teorinya. It should be like that when there is no red traffic light, when there is no traffic sign, no him, no them, no her. Sounds complicated ya? karena biasanya penulis juga ga tahu akhir tulisannya diawal dia menulis, haha, semuanya mengalir dan akhirnya tercipta kata kata yang menjadi solusi.

Kadang kita bisa menyemangati orang lain saat dia sedang down, dan kadang kita bisa menyarankan saat dia sedang kacau mungkin hal terbaik yang harus dilakukan adalah berhenti. Berhenti sejenak dari segala monoton itu, berfikir terlalu jauh, bekerja terlalu keras, berhenti sejenak saja. Jangan menumpahkan emosi di social media, atau bahkan meampiaskannya pada orang lain, jangan berbicara terlalu banyak saat sedang tidak stabil. Tapi saat merasakannya sendiri, its really complicated. Diam kepikiran terus, dikejar dedline yang sangat tidak bersahabat, mood masih terbang ke bulan,mau tidur sebentar insom berat, belum kalau ditambah migrain dan sakit pundak. Oh....perfect time bomb ,haha

Yea,akhirnya mungkin saya menemukan solusi terbaik saat menulis 2 baris terakhir diatas. Bagaimana jika... mengerjakan yang lama tidak dikerjakan, membaca yang lama tidak dibaca. Menyentuh hal hal tersebut, membuat kita mengingat hal hal yang telah lalu, ada yang memalukan namun sangat manis sehingga membuat kita tertawa tawa membacanya, ada yang membuat kita ingat betapa.. dulu kita berusaha sekuat tenaga untuk mencapai keadaan kita sekarang, dan rasanya seperti melihat kita yang sedang berusaha keras dengan penuh d(s)ukaduka, dan rasanya, kita begitu menyayanginya....kita yang dulu.

Atau, coba berjalan, ke kamar orangtua, atau adik/kakak, lihat wajah tidur mereka. Dan..Aah, teringat semua barang yang ingin kita belikan untuk mereka. Klasik, tapi manis, dan segar. Entah itu semangat atau bukan, tapi ada perasaan hangat yang mengusir kedinginan.

Pain is temporary. If you dont have power to face it, step back or just quiet for moment.